Blog Pendidikan, Contoh Makalah, Contoh Naskah Drama, English Text, Contoh Resensi, Contoh Surat

Naskah Cerita Terbaru 2013: Merindukan Uang

Krumpuls - Naskah Cerita Terbaru 2013: Merindukan Uang - Dalam rangka menyambut kelahiran buku antologi kedua Grup Sahabat Musafir Pena berjudul ‘Gara-Gara Uang’ yang baru saja dilaunching ini. Grup Sahabat Musafir Pena  bermaksud mengadakan event special berupa FF/FTS 250-300 Kata dengan tema yang sama yaitu UANG, di mana tulisan tersebut memberikan pesan positif atau dalam kata lain tulisan inspiratif.

nahh pada kesempatan kali ini akan saya beberkan Naskah Esay yang bertemakan Gara-Gara Uang Karya Sahabat El ha Ulin Chamdanah  pemilik akun FaceBook Hanaufa Hubby Fiddhomir.

Ohh iyaa... tolong untuk para pembaca saya mohon Bantuan Like nya yaa...
langsung aja Klik disini Notes Naskah Cerita Merindukan Uang
terimakasih banyak untuk yang bersedia pencet Likenya. :)



Merindukan Uang


Merindukan Uang

Uang. Orang Jawa menyebutnya duit. Selembar kertas yang kadang terlihat tidak begitu menarik bentuknya, apalagi kalau sudah sampai pada pedagang pasar. Uang, orang buta huruf sampai sampai buta warnapun mengenal sosok uang. Wah, berarti uang sangat spesial yah. Berarti uang lebih terkenal daripada artis bahkan orang ternama di negeri ini dong.

            Itulah sekilas bayangan betapa pentingnya uang bagiku yang terlintas dalam fikiranku saat kulihat dompetku kini tersisa hanya berisi uang recehan, ATM serta surat – surat yang penting. Gelisah, pasti. Menunggu kiriman itulah pekerjaanku saat ini. Maklum, masih bergantung dengan orang tua menjadikanku uang itu sebuah rezeki yang datang dari kedua orang tuaku. Wajah harap – harap cemas bermukim diwajahku, merasa takut karena persediaan uang sudah tidak ada sama sekali.

            “ Hih, ini uang kok gak dikirim – kirim, mama pasti lupa lagi. Sebel.” Gerutuku sedari menuju tempat parkir kampus. “ Kamu ini lho susah sekali gak punya uang. Seakan – akan uang itu kau dewakan. Paling juga kalau belum rejekimu tidak bakalan uang itu sampai pada tanganmu.” Nasehat salah satu temanku yang membuatku terkejut. Dewa. Rejeki. Mengapa aku baru menyadari. Ah masa bodoh, persetan dengan semua kata – kata itu yang penting ATMku terisi uang.


            Tepat ingin magrib tiba. Tadi siang mama sudah mengabariku, otomatis wajah yang asalnya mendung kini bagai pelangi yang siap mencerahkan senyumku. Magrib, kata orang Jawa wayah magrib akeh candi ala. Magrib adalah waktu yang sensitif, namun aku terlalu nekad, uang yang membuatku begini. Nekad. Langkahku sudah tidak sabar. 324***. Saatnya melihat saldo. Waaw cukup banyak. Ingin rasanya mengambil semuanya. Selesai aku keluar dan berlari kencang karena adzan magrib sudah terdengar keras di telinga.
            Tiada aku sadar, dompetku terjatuh karena gunjangan badan di waktu aku lari. Aku linglung, padahal tadinya aku ingin pamer pada teman sekamarku, aku terdiam malu, inginku mengusir pilu namun airmata kini terlanjur deras membasahi pipiku. Oh uang, dimana dikau, baru sebentar aku menyentuhmu, mengapa kau tega meninggalkanku, belum sampai aku menukarkanmu dengan sesuap nasi di warung makan favoritku, namun kau (uang) sudah pergi meninggalkanku.


Ulin Khamdanah. Cewek yang lahir di Kudus ini lebih di kenal dengan nama penanya Hanaufa, hobinya nulis cerpen, artikel dan semacamnya sewaktu masih duduk di bangku sekolah hingga sekarang, karena ingin memperdalam ilmunya ia memutuskan untuk kuliah di jurusan bahasa dan sastra indonesia di UNY.


nahh sekian dulu yaaa updatean malam ini.
semoga bermanfaat bagi kita semua
dan terkhusus buat mbak ulin chamdanah semoga Naskah Cerita: Merindukan Uang ini bisa lolos seleksi

aamiin ---- semangat yaaa :)





demikianlah artikel yang bisa say share mengenai Naskah Cerita Terbaru 2013: Merindukan Uang semoga bermanfaat dan berguna untuk anda semua - Naskah Cerita Terbaru 2013: Merindukan Uang

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Naskah Cerita Terbaru 2013: Merindukan Uang

2 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan,tidak mengandung sara atau pun menyinggung pihak tertentu.